BERITA TERBARU
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
10.00
Menatap Masa Depan Gemilang Media Di Indonesia
Written By Byaz.As on Rabu, 04 Juni 2014 | 10.00
Suryajagad.Com Jakarta
- Pasca tragedi reformasi 1998, ada dua hal yang kita bisa lihat dalam
perjalanan media di Indonesia, yakni datangnya kebebasan pers hasil reformasi
prodemokrasi dan berlangsungnya revolusi teknologi informasi. Pada saat yang
bersamaan, kehadiran media informasi dan komunikasi serba teknologi tersebut
justru tidak mematikan informasi dan komunikasi tatap muka lewat forum-forum
tradisional, bahkan kabar-kabur juga riuh diperbincangkan di pasar, ruang
ibadah, dan pertemuan-pertemua yang sejenis. Dalam perspektif status sebagai eksistensi masayarakat (medium is the extension
of man) dan dalam perspektif struktural-masyarakat sebagai sistem dan media
sebagai subsistem-media diharapkan dapat menjamin kesinambungan, ketertiban,
integrasi, motivasi, trendsetter, dan respons terhadap kemungkinan-kemungkinan
baru. Sehingga wajar jika kemudian media oleh banyak kalangan termasuk
kekuasaan disebutkan bawah media adalah watchdog dan pendamping masyarakat
menghadapi perubahan yang serba cepat. Di sini fungsi media begitu sangat
strategis. Bahkan tidak sedikit yang menggunkan media sebagai sarana membangun
citra dan menjaga sentrum dan episentrum kekuasaan.
Hadirnya kebebesan pers dan revolusi teknologi menujukkan betapa besarnya peranan media dan keleluasaannya dalam mewujudkan integrasi atau bahkan sebaliknya memicu dan menyuburkan disintegrasi sosial. Sebagai subsistem masyarakat, di mana media menjadi subsistem yang terbuka, setidaknya dampak publikasi media langsung sampai kepada masyarakat. Dan berpotensi menggiring satu cara pandang dan bertindak dalam masyarakat itu sendiri.
Namun di balik potret strategis tersebut ternyata perjalanan media tidak sepenuhnya mulus. Perlahan tapi pasti menuai pelbagai masalah. Masalah media terus datang silih berganti seakan-akan bak samudera yang tak bertepi. Masalah tersebut berakar dari internal dan eksternal dari media itu sendiri antara lain:
Pertama, persoalan profesionalitas. Tradisi jurnalisme kontemporer mengajarkan bahwa seorang jurnalis atau seorang wartawan yang profesional selayaknya menempatkan diri sebagai kalangan yang netral, objektif, tidak berpihak dan berjarak dengan peristiwa yang diberitakan.
Namun, ketika prinsip-prinsip tersebut terangkat menjadi semacam ‘kredo suci’ yang diterjemahkan mentah-mentah tanpa mempedulikan filsafat di belakang kelahirannya, yang dilahirkan justru barisan wartawan yang berjarak dari peran sebagai agen perubahan sosial. Ia seolah-olah hanya berkewajiban menyajikan gambar tentang apa yang terjadi. Tidak memotret nilai-nilai krusial yang sangat penting diketahui oleh publik.
Setidaknya pandangan bahwa jurnalis hanya memberitakan sesuatu yang terjadi adalah bentuk miskonsepsi. Kebenaran tak bisa disempitkan sebagai sekedar sesuatu yang secara objektif terjadi. Ketika media hanya menyajikan informasi apa adanya secara objektif tanpa melihat sesuatu yang jauh lebih penting dari persoalan yang disajikan menjadi sedikit sumir .
Hadirnya kebebesan pers dan revolusi teknologi menujukkan betapa besarnya peranan media dan keleluasaannya dalam mewujudkan integrasi atau bahkan sebaliknya memicu dan menyuburkan disintegrasi sosial. Sebagai subsistem masyarakat, di mana media menjadi subsistem yang terbuka, setidaknya dampak publikasi media langsung sampai kepada masyarakat. Dan berpotensi menggiring satu cara pandang dan bertindak dalam masyarakat itu sendiri.
Namun di balik potret strategis tersebut ternyata perjalanan media tidak sepenuhnya mulus. Perlahan tapi pasti menuai pelbagai masalah. Masalah media terus datang silih berganti seakan-akan bak samudera yang tak bertepi. Masalah tersebut berakar dari internal dan eksternal dari media itu sendiri antara lain:
Pertama, persoalan profesionalitas. Tradisi jurnalisme kontemporer mengajarkan bahwa seorang jurnalis atau seorang wartawan yang profesional selayaknya menempatkan diri sebagai kalangan yang netral, objektif, tidak berpihak dan berjarak dengan peristiwa yang diberitakan.
Namun, ketika prinsip-prinsip tersebut terangkat menjadi semacam ‘kredo suci’ yang diterjemahkan mentah-mentah tanpa mempedulikan filsafat di belakang kelahirannya, yang dilahirkan justru barisan wartawan yang berjarak dari peran sebagai agen perubahan sosial. Ia seolah-olah hanya berkewajiban menyajikan gambar tentang apa yang terjadi. Tidak memotret nilai-nilai krusial yang sangat penting diketahui oleh publik.
Setidaknya pandangan bahwa jurnalis hanya memberitakan sesuatu yang terjadi adalah bentuk miskonsepsi. Kebenaran tak bisa disempitkan sebagai sekedar sesuatu yang secara objektif terjadi. Ketika media hanya menyajikan informasi apa adanya secara objektif tanpa melihat sesuatu yang jauh lebih penting dari persoalan yang disajikan menjadi sedikit sumir .
Kedua,
problem rutinitas media. Media hari ini hidup dalam kompetisi yang sangat
ketat. Pertumbuhan media yang sangat besar menciptakan pergesekan yang cukup
akut. Tekanan kompetisi ini mendorong para pengambil keputusan di ruang-ruang
redaksi bekerja dengan naluri kesegeraan yang tinggi.
Sehingga akibat praktis yang kemudian muncul ke dalam laporan menjadi sulit untuk diwujudkan sebab ekspektasi selalu berujung pada informasi yang lebih dulu sampai, bukan siapa yang paling kuat dan berkualitas. Pola penyajian cepat pada gilirannya mengkodisikan khalayak untuk terbius dengan informasi yang ringkas dan cepat dikonsumsi, sehingga yang tampil di media adalah rangkaian peristiwa yang terpisah-pisah tanpa memiliki konteks makro yang dapat menjelaskan hubungan antar peristiwa tersebut.
Ketiga, ancaman terhadap kekerasan pelaku media masih seringkali menjadi puncak gunung es. Wartawan sebagai bagian peting dari proses kerja jurnalistik, acapkali menuai teror dan ancaman dari pelbagai pihak yang tidak bertanggung jawab.
Kasus Didik Herwanto fotografer Riau Pos pada beberapa waktu lalu setidaknya menjadi bukti nyata bagaimana wartawan acapkali menjadi korban intimidasi dan kekerasan yang meresahkan. Pers yang semestinya di letakkan dalam kerangka yang terhormat dan dilindungi, pada titik klimaksnya terus menjadi sasaran empuk para pemangku kepentingan yang tidak bertanggung jawab.
Perlindungan terhadap para pekerja jurnalistik, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi paling tidak konsistensi dan pemberian sanksi yang sebesar-besarnya bagi pelaku kejahatan media tetapa harus digalakkan. Sehingga kelak tumbuh iklim media yang sejuk dan mendorong terhadap lahirnya semangat dalam menjaga NKRI dan demokrasi nasional yang kuat.
Ketiga problem di atas senantiasa menjadi luka yang nyata bagi masa depan pers di republik ini. Ketiganya menjadi arus besar yang akan menghantam diaspora media hari ini. Tentu problem ini bukan problem sederhana sebab problem media sejatinya merupakan problem demokrasi yang universal. Mengapa demikian? sebab kematian demokratisasi media adalah awal dari kematian demokrasi nasional.
Pada titik ini, tantangan yang dihadapi media di Indonesia adalah bagaimana persoalan minus profesionalitas, kontestasi yang ketat, kekerasan terhadap pers dan sejenisnya mampu dinetralisir sedemikian rupa. Sebab, jika ini dibiarkan terus berlanjut dan tanpa ada penanganan yang konprehensif dari pemerintah, pelaku media dan lembaga-lembaga independen maka haluan wajah elok media yang bermartabat akan sulit untuk diwujudkan. Sehingga ancaman atas hadirnya media buruk rupa dimungkinkan benar-benar menjadi sesuatu yang nyata.
Dengan kata lain, ke depan, pemerintah harus tetap memberikan regulasi yang utuh terkait kebebasan pers, sementara industri media bertanggung jawab memformulasikan konten berita yang benar-benar mencerahkan bagi publik. Konten berita yang tidak saja memperhatikan ‘selera’ tetapi juga kepentingan pengetahuan jangka panjang terutama bagi khalayak kaum muda.
Kemudian pada saat yang bersamaan, lembaga-lembaga swadaya masayarakat dituntut terus memberikan kontribusi berupa pengawalan dan memberikan pendidikan literasi media bagi seluruh khalayak umum. Sehingga persoalan media dari hulu hingga hilir mampu dientaskan secara komprehensif, tidak parsial dan pertikular. Karena semua elemen duduk bersama dan tidak saling memunggungi apalagi saling mengintimidasi. ( Sumber http://news.detik.com/read/2014/06/03/173658/2598745/103/menatap-masa-depan-gemilang-media-di-indonesia )
Sehingga akibat praktis yang kemudian muncul ke dalam laporan menjadi sulit untuk diwujudkan sebab ekspektasi selalu berujung pada informasi yang lebih dulu sampai, bukan siapa yang paling kuat dan berkualitas. Pola penyajian cepat pada gilirannya mengkodisikan khalayak untuk terbius dengan informasi yang ringkas dan cepat dikonsumsi, sehingga yang tampil di media adalah rangkaian peristiwa yang terpisah-pisah tanpa memiliki konteks makro yang dapat menjelaskan hubungan antar peristiwa tersebut.
Ketiga, ancaman terhadap kekerasan pelaku media masih seringkali menjadi puncak gunung es. Wartawan sebagai bagian peting dari proses kerja jurnalistik, acapkali menuai teror dan ancaman dari pelbagai pihak yang tidak bertanggung jawab.
Kasus Didik Herwanto fotografer Riau Pos pada beberapa waktu lalu setidaknya menjadi bukti nyata bagaimana wartawan acapkali menjadi korban intimidasi dan kekerasan yang meresahkan. Pers yang semestinya di letakkan dalam kerangka yang terhormat dan dilindungi, pada titik klimaksnya terus menjadi sasaran empuk para pemangku kepentingan yang tidak bertanggung jawab.
Perlindungan terhadap para pekerja jurnalistik, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi paling tidak konsistensi dan pemberian sanksi yang sebesar-besarnya bagi pelaku kejahatan media tetapa harus digalakkan. Sehingga kelak tumbuh iklim media yang sejuk dan mendorong terhadap lahirnya semangat dalam menjaga NKRI dan demokrasi nasional yang kuat.
Ketiga problem di atas senantiasa menjadi luka yang nyata bagi masa depan pers di republik ini. Ketiganya menjadi arus besar yang akan menghantam diaspora media hari ini. Tentu problem ini bukan problem sederhana sebab problem media sejatinya merupakan problem demokrasi yang universal. Mengapa demikian? sebab kematian demokratisasi media adalah awal dari kematian demokrasi nasional.
Pada titik ini, tantangan yang dihadapi media di Indonesia adalah bagaimana persoalan minus profesionalitas, kontestasi yang ketat, kekerasan terhadap pers dan sejenisnya mampu dinetralisir sedemikian rupa. Sebab, jika ini dibiarkan terus berlanjut dan tanpa ada penanganan yang konprehensif dari pemerintah, pelaku media dan lembaga-lembaga independen maka haluan wajah elok media yang bermartabat akan sulit untuk diwujudkan. Sehingga ancaman atas hadirnya media buruk rupa dimungkinkan benar-benar menjadi sesuatu yang nyata.
Dengan kata lain, ke depan, pemerintah harus tetap memberikan regulasi yang utuh terkait kebebasan pers, sementara industri media bertanggung jawab memformulasikan konten berita yang benar-benar mencerahkan bagi publik. Konten berita yang tidak saja memperhatikan ‘selera’ tetapi juga kepentingan pengetahuan jangka panjang terutama bagi khalayak kaum muda.
Kemudian pada saat yang bersamaan, lembaga-lembaga swadaya masayarakat dituntut terus memberikan kontribusi berupa pengawalan dan memberikan pendidikan literasi media bagi seluruh khalayak umum. Sehingga persoalan media dari hulu hingga hilir mampu dientaskan secara komprehensif, tidak parsial dan pertikular. Karena semua elemen duduk bersama dan tidak saling memunggungi apalagi saling mengintimidasi. ( Sumber http://news.detik.com/read/2014/06/03/173658/2598745/103/menatap-masa-depan-gemilang-media-di-indonesia )
Label:
politik
08.30
Kemarin, dua pasangan capres-cawapres telah dideklarasikan. Dua pasangan itu adalah pasangan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) dan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Jokowi-JK diusung oleh PDIP, NasDem, PKB dan Hanura. Usai deklarasi di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin, pasangan capres-cawapres itu langsung mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Sementara, pasangan Prabowo-Hatta Rajasa diusung oleh Gerindra, PAN, PPP, PKS, Golkar dan PBB. Deklarasi pasangan capres-cawapres itu dilakukan di rumah Polonia, Cempedak, Jakarta Timur. Namun, pasangan itu baru akan mendaftarkan diri ke KPU hari ini (20/05/2014) (Byaz)
Prabowo VS Jokowi Dalam Pilpres 2014
Written By Byaz.As on Selasa, 20 Mei 2014 | 08.30
Suryajagad.Net - Pertarungan di Pilpres 2014 semakin jelas. Setelah
menjadi misteri, kini siapa saja calon yang akan maju memperebutkan kursi orang
nomor satu dan dua di Indonesia telah diketahui.
Kemarin, dua pasangan capres-cawapres telah dideklarasikan. Dua pasangan itu adalah pasangan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) dan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Jokowi-JK diusung oleh PDIP, NasDem, PKB dan Hanura. Usai deklarasi di Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin, pasangan capres-cawapres itu langsung mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Sementara, pasangan Prabowo-Hatta Rajasa diusung oleh Gerindra, PAN, PPP, PKS, Golkar dan PBB. Deklarasi pasangan capres-cawapres itu dilakukan di rumah Polonia, Cempedak, Jakarta Timur. Namun, pasangan itu baru akan mendaftarkan diri ke KPU hari ini (20/05/2014) (Byaz)
Label:
politik
12.00
Suryajagad.Com – Kiprah warga Rt 01 Rw 11 Dusun Nglarangan Desa Karangasri Kecamatan Ngawi memang patut diacungi jempol. Dengan semangat gotong royong saling bahu membahu membuat gapura pintu masuk ke wilayahnya dengan swadaya murni.
Gotong Royong Ciptakan Kebersamaan Antar Warga
Written By Byaz.As on Kamis, 15 Mei 2014 | 12.00
Suryajagad.Com – Kiprah warga Rt 01 Rw 11 Dusun Nglarangan Desa Karangasri Kecamatan Ngawi memang patut diacungi jempol. Dengan semangat gotong royong saling bahu membahu membuat gapura pintu masuk ke wilayahnya dengan swadaya murni.
Bukan karena nilai jumlah biaya
yang dikeluarkan untuk membangun gapura namun semangat kebersamaan gotong
royongnya yang patut di contoh dan
dipertahankan serta ditingkatkan. Karena rasa kebersamaan ataupun gotong royong
yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia sudah mulai memudar.
“ Berawal dari kumpulan Arisan RT
kami mengambil keputusan untuk membangun gapura pintu masuk sebelum 17
Agustusan, yang dulunya apabila menjelang acara HUT Kemerdekaan RI gapuranya
hanya dari bambu ,” terang Budi kordinator RT 01 (15/05/2014).
Ditambahkan, kami tidak ada
niatan apapun terkait pembangunan gapura ini semata hanya ingin menciptakan
rasa kebersamaan dan kepedulian lingkungan, kedepan kami mempunyai wacana untuk
mengusulkan ke Pemerintah Desa untuk memaping dan menalut jalan masuk, “ tegas
ahli bordi tersebut.
Pembangunan gapura yang
dikerjakan (02/05/2014) tersebut selesai seminggu kemudian dan saat ini sudah
berdiri megah .
“ Harapan dari warga RT 01
tersebut ,dengan pembangunan gapura yang dibiayai swadaya murni dari warga bisa
menjadi contoh untuk wilayah RT lain atau Pemerintah Desa mempunyai ide kreatif
perlomabaan pembangunan Gapura, “ jelas Yusuf Ketua RT 01 tersebut. (Byaz)
Label:
politik
18.00
Pramono Edhie Dan Dahlan Iskan Capres Demokrat
Written By Byaz.As on Selasa, 22 April 2014 | 18.00
Suryajagad.com - SBY diisukan bakal menggalang poros koalisi di luar pendukung Prabowo
Subianto, Joko Widodo, dan Aburizal Bakrie (Ical). Ada dua nama yang
digadang-gadang jadi kandidat capres PD nantinya.
Dua kandidat terkuat adalah Menteri BUMN Dahlan Iskan dan mantan KSAD Pramono Edhie Wibowo. Keduanya saat ini mengikuti konvensi capres PD.
Di banyak survei, elektabilitas Dahlan Iskan tertinggi di antara 11 peserta konvensi capres PD. Namun Pramono Edhie dinilai punya peluang dicapreskan lantaran punya jejak rekam yang panjang di TNI dengan posisi terakhir jenderal bintang empat sebagai KSAD.
"Pramono Edhie atau Dahlan Iskan. Yang Bapak (SBY) ajukan aku siap sukseskan," kata jubir PD Ruhut Sitompul Selasa (22/4/2014).
Dalam kutipan Detik.com dijelaskan bahwasanya Poros koalisi yang dibangun PD sendiri kemungkinan beranggotakan beberapa anggota Setgab koalisi. Jika poros koalisi SBY terbentuk, kemungkinan ada 4 pasang capres di Pilpres 2014 mendatang.
Bangunan koalisi yang mungkin terjadi adalah PDIP-NasDem, Golkar-Hanura, Gerindra-PPP-PKS, PD-PKB-PAN. Namun semua kemungkinan masih terbuka. Saat ini capres yang sudah aman dari segi Presidential Threshold justru Jokowi dan Ical.(Sumber)
Dua kandidat terkuat adalah Menteri BUMN Dahlan Iskan dan mantan KSAD Pramono Edhie Wibowo. Keduanya saat ini mengikuti konvensi capres PD.
Di banyak survei, elektabilitas Dahlan Iskan tertinggi di antara 11 peserta konvensi capres PD. Namun Pramono Edhie dinilai punya peluang dicapreskan lantaran punya jejak rekam yang panjang di TNI dengan posisi terakhir jenderal bintang empat sebagai KSAD.
"Pramono Edhie atau Dahlan Iskan. Yang Bapak (SBY) ajukan aku siap sukseskan," kata jubir PD Ruhut Sitompul Selasa (22/4/2014).
Dalam kutipan Detik.com dijelaskan bahwasanya Poros koalisi yang dibangun PD sendiri kemungkinan beranggotakan beberapa anggota Setgab koalisi. Jika poros koalisi SBY terbentuk, kemungkinan ada 4 pasang capres di Pilpres 2014 mendatang.
Bangunan koalisi yang mungkin terjadi adalah PDIP-NasDem, Golkar-Hanura, Gerindra-PPP-PKS, PD-PKB-PAN. Namun semua kemungkinan masih terbuka. Saat ini capres yang sudah aman dari segi Presidential Threshold justru Jokowi dan Ical.(Sumber)
Label:
politik
07.30
Menurut Emron Menurut Emron, tinggal bagaimana pertemuan yang digelar di rumah pengusaha Ratna Hasyim Ning itu bisa mengerucut pada pemikiran-pemikiran yang sama. "Kemudian pada gilirannya membuat sejarah Republik Indonesia," tegasnya.
Koalisi 5 Partai Islam Terdasyat Untuk Mengusung Capres Sendiri
Written By Byaz.As on Jumat, 18 April 2014 | 07.30
Suryajagad.com - Kekuatan partai Islam dinilai akan berbahaya jika
koalisi. Pasalnya, koalisi partai Islam setidaknya bisa mengumpulkan 31 persen
suara. Di Jl Cikini Raya No 24, Menteng, Jakarta Pusat,menjadi tempat pertemuan
5 parpol dan ormas Islam. Pertemuan ini penting dan melahirkan benih-benih
koalisi .Koalisi partai Islam masih sangat realistis dan merupakan kebangkitan partai politik berbasis agama di dunia. Di Indonesia,
partai Islam juga bisa bangkit bila didukung seluruh umat.
"Itu sebuah angka yang signifikan," kata Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Emron Pangkapi saat pertemuan tokoh ormas dan partai Islam untuk membahas koalisi di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (17/4/2014).
"Itu sebuah angka yang signifikan," kata Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Emron Pangkapi saat pertemuan tokoh ormas dan partai Islam untuk membahas koalisi di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (17/4/2014).
Menurut Emron Menurut Emron, tinggal bagaimana pertemuan yang digelar di rumah pengusaha Ratna Hasyim Ning itu bisa mengerucut pada pemikiran-pemikiran yang sama. "Kemudian pada gilirannya membuat sejarah Republik Indonesia," tegasnya.
Presiden PKS Anis Matta menyebut pertemuan ini masih sebagai pertemuan awal
untuk menyatukan persepsi, sebelum pada kesepakatan yang lebih konkret
menghadapi Pilpres.
"Masih ada pertemuan-pertemuan selanjutnya, ini kan masalah yang tidak mungkin kita selesaikan dalam satu kali pertemuan saja," ujar Anis
"Masih ada pertemuan-pertemuan selanjutnya, ini kan masalah yang tidak mungkin kita selesaikan dalam satu kali pertemuan saja," ujar Anis
" Anis sepakat posisi tawar
parpol Islam pada pemilu 2014 saat ini sangat strategis. Namun tentu harus
punya pikiran yang sama untuk koalisi.
"Jadi yang dicari sekarang ini pada dasarnya adalah suatu format koalisi baru yang memungkinkan partai-partai Islam seluruhnya, insya Allah akan tetap ada pada pemerintahan yang akan datang," ucapnya.Saya yakin akan mengalami sejarah poros tengah," pungkasnya.
Soal calon presiden yang akan didukung, lanjutnya, tinggal mencari sosok yang bisa diterima semua pihak, punya elektabilitas tinggi, dan bisa disepakati secara bersama. Pertemuan malam itu selesai sekitar pukul 22.45 WIB. Hadir perwakilan 5 partai Islam, yaitu PAN, PKS, PKB, PPP dan PBB. Sementara perwakilan ormas yang hadir dari NU, Muhammadiyah, MUI, Persis, DMI, DDI, Syarikat Islam dan lainnya. (Sumber)
"Jadi yang dicari sekarang ini pada dasarnya adalah suatu format koalisi baru yang memungkinkan partai-partai Islam seluruhnya, insya Allah akan tetap ada pada pemerintahan yang akan datang," ucapnya.Saya yakin akan mengalami sejarah poros tengah," pungkasnya.
Soal calon presiden yang akan didukung, lanjutnya, tinggal mencari sosok yang bisa diterima semua pihak, punya elektabilitas tinggi, dan bisa disepakati secara bersama. Pertemuan malam itu selesai sekitar pukul 22.45 WIB. Hadir perwakilan 5 partai Islam, yaitu PAN, PKS, PKB, PPP dan PBB. Sementara perwakilan ormas yang hadir dari NU, Muhammadiyah, MUI, Persis, DMI, DDI, Syarikat Islam dan lainnya. (Sumber)
Label:
politik
09.30
Efektikah Banyak Partai Dan Berkoalisi.......???
Written By Byaz.As on Minggu, 13 April 2014 | 09.30
Suryajagad.com
- Pemilu legislatif 2014 telah usai tinggal menunggu babak selanjutnya dan
menurut hasil quick count tidak ada partai yang mampu mencapai perolehan 25
persen suara dan itu semua mengharuskan untuk berkoalisi bila ingin mengajukan
CAPRES. Koalisi adalah persekutuan, gabungan atau aliansi beberapa unsur, di
mana dalam kerjasamanya, masing-masing memiliki kepentingan sendiri-sendiri.
Aliansi seperti ini mungkin bersifat sementara atau berasas manfaat. Dalam
pemerintahan dengan sistem parlementer sebuah pemerintahan koalisi adalah
sebuah pemerintahan yang tersusun dari koalisi beberapa partai sedangkan
oposisi koalisi adalah sebuah oposisi yang tersusun dari koalisi beberapa
partai.
Banyak masyarkat tidak memahami apa itu koalisi
dan kenapa banyak bermunculan partai-partai baru, makin bertambah jumlah partai
di indonesia. Pemilu 2009 diikuti oleh
44 partai politik terdiri dari 38 partai nasional dan 6 partai lokal untuk
Aceh. Pemilu 2014 diikuti 15 Partai 2 partai lokal untuk aceh. peserta pemilu
yang banyak menjadi masalah tersendiri bagi KPU, banyak partai banyak biaya.
Masalah pencetakan surat suara, pembagian jadwal kampanye, dan kelengkapan
administrasi, jadi lebih rumit.
Memang, katanya, di
negara demokrasi, parpol tidak bisa dibatasi. Kalau menurut peraturan mereka
memenuhi syarat ya boleh ikut pemilu. Namun peserta yang begitu banyak pastilah
membingungkan calon pemilih, seperti para orang lanjut usia di pedesaan yang
tak bisa baca tulis. Bagaimana mencari gambar partai, kemudian harus mencari
nama caleg yang harus dicoblos, yang rata-rata tidak kenal.
Kalau dulu, zaman orde baru, karena hanya tiga
partai, pembagiannya jelas. Yang di PPP, yang di Golkar, dan yang di PDI.
walaupun demokrasi semu, karena tak ada kebebasan bagi semua warga negara,
namun paling tidak orang yang sudah menyatakan masuk partai A, akan khas dengan
nuansa perjuangan partai tersebut.
Kalau sekarang yang khas hanya beberapa, terlepas
beberapa kadernya juga ada yang pindah partai, PDIP mewakili nasionalis
tradisional, PKS Islam kota, PAN Islam Muhammadiyah, PKB Islam NU, Golkar
sekuler modern dan lain sebagainya. Yang menjadi pertanyaan, betulkah Indonesia
sedemikian banyak kepentingan sehingga harus diwakili oleh banyak partai? Tidakkah
cukup misalnya dengan 3 partai politik
saja? Agar dalam mengambil sebuah kebijakan pemerintahan lebih mudah.
Kembali lagi rakyat dibuat bingung,dengan getol dan
fanatik rakyat memperjuangkan partai tertentu dan secara tegas berseberangan
dengan partai lain masalah ideologinya namun dikarenakan dalam pemilu
legislatif tidak mencapai 25 persen ,para petinggi partai berkoalisi untuk
memperoleh minimal 25 persen agar bisa mengajukan jagoannya maju menjadi
Capres.
Disamping itu rakyat juga sudah muak dengan
kinerja para wakil wakilnya yang duduk di gedung MPR dan DPR. Disaat kampanye
getol merapat mendekat ke rakyat,blusukan trendnya namun tatkala sudah menjadi
dewan tanpa harus disebutkan tahu kinerja mereka. Semoga hasil dari pemilu
legislatif 2014 benar benar mampu membawa perubahan pada Negera Indonesia dan
kesejahteraan rakyat bisa terwujud. (Byaz)
Label:
politik
14.00
Bupati Ngawi Blusukan Di TPS Banjaransari
Written By Byaz.As on Rabu, 09 April 2014 | 14.00
Suryajagad.com- Pelaksanaan pemungutan suara pemilu legislatif yang
diselenggarakan secara serentak di seluruh wilayah indonesia (9/4/2014) dan pada kesempatan pemilu
legislatif tersebut wilayah Desa Banjaransari Kecamatan Padas Kabupaten Ngawi antusias
pemilih sanagt tinggi untuk hadir ke TPS memberikan hak suaranya. Dalam pantaun media ini tampak
masyarakat antri di setiap TPS,warga masyarakat yang mayoritas petani tersebut
pada hari pemungutan suara hampir semua meliburkan diri. Secara tiba-tiba warga
masyarakat desa Banjaransari dikejutkan dengan hadirnya Bupati Ngawi Ir.Budi
sulistiyono yang di dampingi wakilnya Ony Anwar beserta seluruh jajaran Muspida
pemerintah Kabupaten Ngawi.
Dalam kesempatan itu Mbah Kung
sapaan akrab Bupati Ngawi tersebut bercengkarama dengan warga masyarakat desa
Banjaransari dan dengan luwesnya serta sangat humoris membantu panitia pemungutan suara.
“ Kaget banget dan tidak tahu
kalau itu tadi Bupati Ngawi dan saya sangat bangga bisa bersalaman dan berfoto
bareng dengan beliau,” Ujar Mbah Maju.
Sementara itu Bupati Ngawi menghimbau
untuk semua masyarakat agar tenang dan selalu menjaga kerukunan dan menciptakan
suasana tetap kondusif.
“ Dengan tidak GOLPUT dan
memberikan hak suaranya itu yang diharapakan serta selalu menciptakan suasana
yang aman tetap menjaga kerukunan meskipun beda dalam pilihan,”tegasnya. (Byaz)
SILAHKAN KLIK TAYANGAN LIVE AKSI BLUSUKAN BUPATI NGAWI (
KLIK DI SINI )
SILAHKAN KLIK TAYANGAN LIVE AKSI BLUSUKAN BUPATI NGAWI (
07.30
Politik Uang, Intimidasi Dan Serangan Fajar
Written By Byaz.As on Senin, 07 April 2014 | 07.30
Suryajagad.com
- Aroma Tim sukses mulai mengatur strategi, ahli komunikasi merancang
slogan-slogan. Elite politik pun mulai sibuk menata penampilan, memoles wajah,
menyegarkan tubuh, mendesain pakaian, mengatur cara berbicara, melatih
intonasi, dan mengasah retorika. Siapa sangka, ”penampilan” kini jadi ”jantung” kehidupan politik, dan
”kosmetika” adalah cara utama
memanipulasi penampilan, agar tampak menarik. Politik menjelma ”politik
kosmetika” ketika ia bekerja melalui cara kerja penampakan luar dalam menata,
memoles, meningkatkan, dan memanipulasi penampilan, untuk menghasilkan citra
diri yang lengkap, sempurna, atau ideal , sebagai cara menarik perhatian pemilih.
Ketika ”politik ideologi” yaitu politik pertarungan ide, gagasan, keyakinan, dan makna politik diambil alih ”politik penampakan”, penampilan, gestur, pakaian, bahasa tubuh, cara berbicara, kepandaian retorika, olah bahasa, dan permainan tanda dijadikan sebagai bagian ”kekuatan politik” (political power), untuk menutupi minimalitas kekuatan substansial (kapabilitas, kecakapan, intelektualitas, kepemimpinan, karisma) yang mungkin tak dimiliki .
Ketika ”politik ideologi” yaitu politik pertarungan ide, gagasan, keyakinan, dan makna politik diambil alih ”politik penampakan”, penampilan, gestur, pakaian, bahasa tubuh, cara berbicara, kepandaian retorika, olah bahasa, dan permainan tanda dijadikan sebagai bagian ”kekuatan politik” (political power), untuk menutupi minimalitas kekuatan substansial (kapabilitas, kecakapan, intelektualitas, kepemimpinan, karisma) yang mungkin tak dimiliki .
Serangan
fajar menjadi alternatif terakhir. istilah serang
fajar kiranya sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Ia merupakan
sebuah tindakan pendekatan terhadap pemilih yang dilakukan oleh caleg dan tim
suksesnya pada malam atau saat fajar menjelang pemungutan suara. Tindakan
demikian dilakukan dengan sembunyi-sembunyi mendekati konstituen.
Praktik terselubung ini
sering menjelma menjelang detik-detik euforia pelaksanaan pemungutan suara.
Suara massa dibeli dan dihargai dengan harga yang tak cukup menjanjikan bagi
kehidupan jangka panjang. Begitulah cara- cara hitam caleg mempermainkan suara
rakyat dengan kantong tebalnya.
Money politics selalu dijadikan alternatif guna mendapatkan
partisipasi publik dan memobilisasi dukungan. Bahkan, lebih ironisnya lagi,
mereka berani membagi-bagikan uang menjelang pelaksanaan. Tindakan demikian
yang sering kita sebut dengan serangan fajar.
Kewaspadaan itu harus
kita bangun bersama demi menjunjung kompetisi demokrasi yang lebih bermartabat.
Masyarakat yang paham mau tidak mau harus memberi pengertian bagi pemilih awam
yang kurang paham tentang politik, sebab menjelang pileg seperti sekarang ini,
strategi-strategi money politics kian digenjot. Strategi money
politics tersebut setidaknya meliputi tiga aspek.
Pertama, dengan cara
membeli kartu suara yang disinyalir sebagai pendukung caleg lain dengan harga
yang sangat mahal. Kedua, mengutus para tim sukses turun langsung ke
tengah-tengah masyarakat untuk mencairkan dana--yang menurut mereka sebagai
ongkos transportasi sekaligus uang saku dengan jumlah uang berbeda-beda.
Strategi ini sering dilakukan oleh tim sukses untuk mengelabui pemilih netral
yang belum menentukan pilihan dan pemilih potensial (berpengaruh).
Ketiga, serangan fajar.
Strategi ini merupakan cara paling terkenal dan sering dilakukan untuk
memobilisasi massa dengan menyodorkan uang saat fajar menyingsing hari
pencoblosan atau pemungutan suara. Sasarannya tidak hanya pemilih netral dan
potensial melainkan juga calon pemilih lawan dengan menyodorkan nominal yang
sangat menggiurkan dengan harapan pendukung lawan dapat berubah pikiran dan
memberikan hak suaranya pada mereka yang memberi uang.
Strategi-strategi
"politik hitam" ini yang sejatinya harus kita waspadai bersama.
Kompetisi politik 2014 harus bersih dari praktik-praktik money politics
dan bebas dari intimidasi. Masyarakat harus diberi kesempatan untuk memilih
jagoan mereka, masing-masing untuk dijadikan pemimpin tanpa harus
diiming-imingi ongkos politik, uang saku, dan pemberian sembako gratis, sebab
semua itu hanya dapat dirasakan dan dinikmati sesaat bukan perbaikan
kesejahteraan bagi kehidupan jangka panjang. (Byaz)
Label:
politik
08.30
Pesan Untuk Caleg Dan Capres
Written By Byaz.As on Selasa, 01 April 2014 | 08.30
Suryajagad.com – Pemilihan umum sudah diambang pintu 09 April 2014 memilih
para wakil-wakil kami yang akan duduk mewakili semua aspirasi. Jujur saat ini
kami bingung untuk memilih siapa,karena kami tidak mengenal siapa yang akan
kami pilih. Sosialisasipun tidak ada hanya baliho-baliho yang terpampang
disetiap pojok dan perempatan jalan dengan wajah-wajah yang masih asing bagi
kami penuh dengan selogan-selogan yang sangat menggiurkan.
Apalagi saat kami menonton
tayangan di televisi-televisi semua berkampanye mengatasnamakan untuk rakyat
namun kami bingung rakyat yang mana yang diberi janji-janji tersebut. Faktanya
saat kami kebingungan dengan anjloknya harga dasar gabah tidak satupun para
caleg-caleg turun untuk mengatasi,saat kami kebingungan dengan kelangkaan pupuk
para caleg-caleg yang berjuang pemilihan di dapil kamipun tidak ada yang
membantu.
Saat saudara-saudara kami para
pahlawan devisa mengalami dugaan siksaan oleh majikan sangat lambat
penanganannya. Mohon maaf apabila kami berontak,mengumpat meluapkan isi hati dijejaring
sosial,demo dan lain sebagainya karena hanya itu yang mampu kami lakukan.
Tapi tenang semua memang sudah resiko
kami sebagai wong cilik dan untuk tanggal 09 April 2014 kami tidak akan GOLPUT .
Kami sebagai warga negara akan hadir dan memilih meskipun kami belum mempunyai
pilihan. Namun yang jelas kami tidak akan memilih para pengobral janji dan
mohon kami jangan di didik dengan sogokan uang serta instruksi untuk memilih
caleg dan partai tertentu meskipun dengan dalih sebagai pesangon .
Memang kami wong miskin dengan
lembaran uang yang anda berikan itu dalam kerja sehari kami baru mendapatkannya
tapi sekali lagi jangan didik kami dengan cara begitu.
Selamat berjuang para caleg-caleg
dan capres. Pokok utamanya jika nanti anda terpilih berusahalah untuk
amanah,jaga kondisi jangan sampai kelelahan jadi saat melakukan rapat tidak
tertidur,budayakan hidup sederhana serta qona’ah. Dan bagi yang belum diberi
kemenangan jangan sampai stress, berkarya untuk memajukan negara kita tidak
harus menjadi pemimpin,tidak harus menjadi dewan legeslatif . Doa kami selalu
untuk anda semua. (Byaz)
Label:
politik
09.00
Golkar : Piye Kabare ? Isih Penak Jamanku To.......???
Written By Byaz.As on Jumat, 21 Maret 2014 | 09.00
Suryajagad.com
- Partai Golkar membeberkan alasan menggunakan tagline "Piye kabare?
Isih Penak Jamanku Tho" dalam setiap kampanye. Ketua DPP Golkar Hajriyanto
Y Thohari mengungkapkan pihaknya sebenarnya hanya ingin menekankan bahwa
pembangunan itu harus menajdi yang utama dan pertama.
"Pembangunan itu nomor satu! Demokrasi okey,
kebebasan okey, HAM okey, keterbukaan okey, tetapi jangan sampai menomorduakan
pembangunan," kata Hajriyanto ketika dikonfirmasi, Jumat (21/3/2014).
Dalam rilisan Tribunnews.com
Wakil Ketua MPR itu mengatakan semua masyarakat tahu bahwa pembangunan itu
identik dengan Presiden Soeharto. Ia mengakui pada jaman Soeharto, pembangunan
yang utama. Sedangkan politik dan demokrasi nomor dua. "Kini Golkar ingin
keduanya: politik yes; demokrasi yes; pembangunan yes!" imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan, "Piye Kabare, Isih
Penak Jamanku To?" kalimat itu dikumandangkan berulang kali oleh para juru
kampanye pusat dan Caleg dari Golkar ketika kampanye terbuka Golkar di
gelanggang Olahraga remaja (GOR) Ciracas, Jakarta Timur, Selasa
(18/3/2014), sore.
Kalimat itu juga dikumandangkan oleh Pjs Ketua
DPD Golkar Haji Renggong saat memberikan pidato dalam kampanye yang dihadiri
Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie/ARB itu. Tatkala dia mengumandangkan
kalimat itu sejumlah massa kader dan simpatisan Golkar tersenyum.
"Piye Kabare, Isih Penak Jamanku To?"
adalah kalimat/istilah yang kerap ditemui di stiker angkutan umum dan truk di
Jawa dan sekitarnya. Kalimat ini disertai foto Mantan Presiden (Alm)
Soeharto. Seolah-olah kalimat itu diutarakan oleh Soeharto, yang bertanya
kepada pembaca enakan mana hidup di jaman pemerintahan Soeharto dibandingkan
sekarang ini.
ARB dalam tiga hari kampanye di tiga tempat
berbeda dalam pidatonya selalu mengungkap soal keberhasilan pemerintahan
Soeharto selama 32 tahun. ARB menyebut itu adalah pemerintahan Golkar.
Dalam kampanye di Serang, ARB mengatakan. "Kenapa kita harus menangkan Golkar? Karena hanya Golkar yang pernah memimpin negeri ini selama 32 tahun," katanya .( Sumber)
DOWNLOAD APLIKASI MEDIA ONLINE BYAZ SURYA DJAGAD UNTUK HANDPHONE ANDROID DISINI.
Dalam kampanye di Serang, ARB mengatakan. "Kenapa kita harus menangkan Golkar? Karena hanya Golkar yang pernah memimpin negeri ini selama 32 tahun," katanya .( Sumber)
DOWNLOAD APLIKASI MEDIA ONLINE BYAZ SURYA DJAGAD UNTUK HANDPHONE ANDROID DISINI.
Label:
politik
07.00
Abraham Samad Sosok Idealis Dampingi Prabowo
Written By Byaz.As on Rabu, 19 Maret 2014 | 07.00
Suryajagad.com
- Partai Gerindra saat ini masih menampung sejumlah nama yang diusulkan
untuk mendampingi Prabowo dalam Pilpres 2014. Banyak masyarakat yang
mengharapkan Prabowo berpasangan dengan Ketua KPK Abraham Samad tersebut.
“Akan lebih sinergis bila Prabowo Subianto menggaet Ketua KPK Abraham Samad untuk menjadi wakil presidennya,” ujar seseorang paranormal yang tidak mau disebutkan identitasnya. Abraham sosok yang tegas dalam memberantas korupsi,prabowo sosok yang sangat nasionalisme dan selalu peduli dengan wong cilik ,”tambahnya. Dalam kutipan Tribunnews.com Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto mengatakan dirinya menampung semua usulan soal Cawapres, termasuk akan dipasangkan dengan Ketua KPK Abraham Samad.
“Akan lebih sinergis bila Prabowo Subianto menggaet Ketua KPK Abraham Samad untuk menjadi wakil presidennya,” ujar seseorang paranormal yang tidak mau disebutkan identitasnya. Abraham sosok yang tegas dalam memberantas korupsi,prabowo sosok yang sangat nasionalisme dan selalu peduli dengan wong cilik ,”tambahnya. Dalam kutipan Tribunnews.com Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto mengatakan dirinya menampung semua usulan soal Cawapres, termasuk akan dipasangkan dengan Ketua KPK Abraham Samad.
"Dia (Abraham Samad) diusulkan, siapapun
diusulkan kita terima dengan baik. Tentunya kita cari putra dan putri terbaik
bangsa," kata Prabowo, usai bersilaturahmi dengan sejumlah kiai di Pondok
Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Selasa (18/3/2014).
Pada hari pertama kampanye Gerinda, Prabowo yang
ditemani putri Gus Dur, Yenni Wahid berkampanye di Lapangan Desa Dukuh Dempok,
Kecamatan Wuluhan, Jember. Usai berkampanye, Prabowo dan Yenni Wahid,
bersilaturahmi ke sejumlah kiai di Pondok Pesantren Al Qodiri, Jember dan
Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.
Persaingan menjelang pemilihan presiden (pilpres)
tahun ini semakin panas. Apalagi, semenjak PDI Perjuangan mengusung Gubernur
DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon presidennya (capres).
Banyak pihak yang menyatakan popularitas Jokowi
sulit dikalahkan. Namun, ada satu pasangan yang dinilai bisa mengalahkan
Jokowi. Yakni, jika Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto
dipasangkan dengan Ketua KPK Abraham Samad.(Byaz)
DOWNLOAD APLIKASI MEDIA ONLINE BYAZ SURYA DJAGAD UNTUK HANDPHONE ANDROID DI SINI
Label:
politik
09.00
Perjanjian Batu Tulis Dinodai ,Prabowo Kecewa
Written By Byaz.As on Minggu, 16 Maret 2014 | 09.00
Suryajagad.com - Ketua
Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto nampak belum menerima dengan
sikap PDI Perjuangan (PDIP) yang memilih mencalonkan Joko Widodo (Jokowi)
sebagai calon presiden, ketimbang melanjutkan kesepakatan di Batu Tulis pada
2009 silam.
Dalam rilisan Merdeka.com Prabowo menceritakan, saat meneken kesepakatan di Batu Tulis, dia merasa cocok dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sebab, Megawati dinilainya sebagai seorang yang nasionalis.
"Kita sama-sama nasionalis, (saat pejanjian) kita merasa bisa berjuang bersama. Kita merasa demi kebaikan bangsa dan negara, kita ingin teruskan hubungan itu," kata Prabowo di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Minggu (16/3).
Namun, kata Prabowo, fakta dinamika politik di Indonesia saat ini berbeda. Megawati akhirnya mendorong Gubernur DKI Jakarta Jokowi menjadi capres partai banten moncong putih itu.
Mantan Danjen Kopassus itu menilai, seharusnya ada komunikasi bila perjanjian Batu Tulis itu harus dibatalkan.
"Kalau perjanjian ya harus serius. Ya kan ada dua pihak. Baiknya ya kalau mau diakhiri kan bisa saja. Saya berharap saya dipanggil diberitahu, kalau nggak cocok kan bisa saja," ujarnya.
Ketika disinggung apakah dia kecewa dengan perjanjian tersebut, Prabowo pun enggan mengungkapkannya. Dia malah menyuruh para awak media menilai hal tersebut.
"Kalau anda manusia dan di pihak saya, anda kecewa nggak (perjanjian itu batal)?," ungkapnya. Namun demikian, Prabowo mengaku masih tetap menghormati putri Bung Karno tersebut.(Sumber)
Dalam rilisan Merdeka.com Prabowo menceritakan, saat meneken kesepakatan di Batu Tulis, dia merasa cocok dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sebab, Megawati dinilainya sebagai seorang yang nasionalis.
"Kita sama-sama nasionalis, (saat pejanjian) kita merasa bisa berjuang bersama. Kita merasa demi kebaikan bangsa dan negara, kita ingin teruskan hubungan itu," kata Prabowo di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Minggu (16/3).
Namun, kata Prabowo, fakta dinamika politik di Indonesia saat ini berbeda. Megawati akhirnya mendorong Gubernur DKI Jakarta Jokowi menjadi capres partai banten moncong putih itu.
Mantan Danjen Kopassus itu menilai, seharusnya ada komunikasi bila perjanjian Batu Tulis itu harus dibatalkan.
"Kalau perjanjian ya harus serius. Ya kan ada dua pihak. Baiknya ya kalau mau diakhiri kan bisa saja. Saya berharap saya dipanggil diberitahu, kalau nggak cocok kan bisa saja," ujarnya.
Ketika disinggung apakah dia kecewa dengan perjanjian tersebut, Prabowo pun enggan mengungkapkannya. Dia malah menyuruh para awak media menilai hal tersebut.
"Kalau anda manusia dan di pihak saya, anda kecewa nggak (perjanjian itu batal)?," ungkapnya. Namun demikian, Prabowo mengaku masih tetap menghormati putri Bung Karno tersebut.(Sumber)
Label:
politik
15.00
Jokowi Maju Capres Dari PDIP
Written By Byaz.As on Jumat, 14 Maret 2014 | 15.00
Suryajagad.com – Terjawab sudah yang selama ini jadi perdebatan
masyarakat kecil terkait kesedian Joko Widodo untuk maju dalam petarungan
Pilpres 2014. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri
akhirnya memberikan mandat kepada Joko Widodo (
Jokowi) sebagai calon Presiden
2014. Mega membacakan mandat itu didampingi putrinya, Puan Maharani dan Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo. Dalam rilisan Merdeka.com dijelaskan Selain mandat, Megawati Soekarnoputri juga
menginstruksikan 3 perintah harian bagi seluruh elemen PDI Perjuangan. "Kami harapkan dukungan dari seluruh
rakyat Indonesia untuk memastikan Jokowi & PDI Perjuangan memenangkan Pemilu
2014".tegasnya.
Di tempat terpisah, Jokowi mengaku siap menjadi calon presiden. "Saya telah dapatkan mandat dari Ibu Megawati dan saya siap untuk melaksanakannya," Tegas Jokowi
Deklarasi tersebut dilakukannya tepat pukul 14.40 WIB, atau sepulangnya dari blusukan di kawasan Marunda, Jakarta Utara. Tak lama usai mengucapkan kalimat itu, dia langsung mencium bendera merah putih. "Bismillah, saya siap menjadi calon presiden dari PDIP ," tegasnya.
Di tempat terpisah, Jokowi mengaku siap menjadi calon presiden. "Saya telah dapatkan mandat dari Ibu Megawati dan saya siap untuk melaksanakannya," Tegas Jokowi
Deklarasi tersebut dilakukannya tepat pukul 14.40 WIB, atau sepulangnya dari blusukan di kawasan Marunda, Jakarta Utara. Tak lama usai mengucapkan kalimat itu, dia langsung mencium bendera merah putih. "Bismillah, saya siap menjadi calon presiden dari PDIP ," tegasnya.
Sementara itu dalam kutipan
Detik.com
dengan mengumumkan penetapan Jokowi sebelum Pileg, Puan berharap PDIP nantinya
bisa mengusung capres dan cawapres sendiri. Label capres PDIP yang tersemat di
diri Jokowi diharapkan memberi efek positif untuk perolehan suara PDIP.
"Dinamika yang terjadi hari ini intinya PDIP menang menuju Indonesia hebat. Insya Allah bisa mengusung capres cawapres pada Juli mendatang," pungkasnya. (Sumber)
"Dinamika yang terjadi hari ini intinya PDIP menang menuju Indonesia hebat. Insya Allah bisa mengusung capres cawapres pada Juli mendatang," pungkasnya. (Sumber)
Label:
politik
08.00
Caleg Melakukan Beragam Cara Untuk Meraih Kemenangan
Suryajagad.com – Tanggal 9 April 2014 Indonesia mengadakan pesta
demokrasi memilih calon legeslatif. Memilih menentukan wakil rakyat yang bisa
membawa Indonesia ke masa depan yang lebih baik atau sebaliknya membawa
Indonesia ke jurang kehancuran.
Berbagai macam cara para caleg
dari masing-masing partai politik untuk mampu mendulang suara terbanyak dilakukan.
Dari sudut era demokrasi Indonesia diacungi jempol, dan ini akan mendidik
masyarakat Indonesia menjadi dewasa dalam perpolitikan.
Entah karena ketiadaan pengalaman
dalam hal marketing, rata-rata para calon peserta Pemilu Pemilu (Pemilihan
Umum) dan Pileg (Pemilihan Legislatif) menggunakan cara-cara yang umum dan
sangat standard. Sepertinya tidak ada kreativitas dalam hal pencalonan.
Strategi umum yang dilakukan
oleh Calon adalah memasang billboard, spanduk, bagi-bagi Sembako, kunjungan ke
masyarakat dan sejenisnya. Walaupun kegiatan ini menelan biaya yang sangat
besar, namun cara itu sangat standard.
Cara yang sangat popular dan
diyakini benar oleh calon walau melanggar hukum adalah money politic. Cara ini
sangat berbahaya tidak saja bagi yang kalah tapi juga si pemenang. Calon peserta Pemilu sangat miskin ide.
Mereka melakukan aktivitas mencari simpati massa dengan cara konvensional yang
seringkali justru menciptakan antipasti masyarakat walaupun maksudnya baik. Faktanya,
memang para calon tidak memiliki kreativitas yang cukup.
Model kampanya yang dilakukan umumnya adalah pasang Baliho yang merusak
pemandangan, pasang poster yang merusak pohon-pohon, membuat selebaran yang
Cuma menambah sampah, memberikan sembako atau pengobatan gratis yang terkesan
ada maunya.
Calon pemilih
dan yang memilih sama-sama pintar. Yang akan memilih bermuka manis agar dapat
duit tapi tidak memilih si calon, si calon hanya menjanjikan ia akan membayar
pemilih jika ia menang. Akhirnya muncul saling curiga dan tidak percaya. Calon berpikir positif, tidak menyadari begitu banyak
calon lain yang memiliki strategi menghalalkan segala cara. Calon yang berpikir
positif tidak menyadari strategi lawan pada akhirnya menjadi korban.
Ada yang lebih ironis sebagian para caleg melakukan ritualan kungkum di
sungai,tempat-tempat keramat baik secara sembunyi maupun terang-terangan bahkan
ada yang mendatangi dukun maupun orang pintar dengan membayar sejumlah rupiah
yang tidak sedikit. Berharap dengan melakukan olah ritualisasi tersebut mampu
mendulang suara pada PILEG (9 April 2014) nanti.(Byaz)
Label:
politik
19.00
Film Soekarno Tayang Di Ngawi
Written By Byaz.As on Selasa, 11 Maret 2014 | 19.00
Suryajagad.com
– Pemutaran film “ SOEKARNO ” di GOR BUNG HATA Ngawi mampu menyedot antusias
masyarakat untuk menonton terutama dari anak-anak SMP sampai dengan SMU
memadati Gelanggang Olahraga Bung Hata tersebut (11/02/2014). Film garapan
sutradara Hanung Bramantyo yang diproduseri Raam Punjabi dan yang menjadi
pemeran utama Ir.Soekarno: Ario Bayu,Maudy Koesnaedi,Ratu Tika Bravani,Lukman
Sardi,Ferry Salim,Tanta Ginting,Agus Kuncoro,Sujiwo Tejo mengisahkan perjuangan
kemerdekaan. Film yang sempat
menjadi pro dan kontra baik dari kalangan keluarga Ir.Soekarno maupun dari
Ormas. Dalam kutipan Merdeka.com
(14.01/2014) dijelaskan, menurut Guruh
Soekarno Putra film SOEKARNO dapat membahayakan generasi muda lantaran
penggambaran yang disajikan melenceng dari sejarah. Karenanya, ia menilai bahwa
penayangan film ini harus dihentikan.
Dari kaca mata Guruh, film SOEKARNO berkesan
menggambarkan kemerdekaan Indonesia adalah hadiah dari Jepang. Selain itu,
penggambaran Bung Sjahrir, yang seolah paling revolusioner dalam penulisan teks
proklamasi, juga terkesan berlebihan.
Berikut ringkasan isi dari film “ SOEKARNO “ :
Lahir dengan nama Kusno, dan karena sering sakit
diganti oleh ayahnya dengan nama Soekarno. Besar harapan anak kurus itu
menjelma menjadi kesatria layaknya tokoh pewayangan - Adipati Karno.
Harapan bapaknya terpenuhi, umur 24 tahun Sukarno berhasil mengguncang podium, berteriak: Kita Harus Merdeka Sekarang!!! Akibatnya, dia harus dipenjara. Dituduh menghasut dan memberontak. Tapi keberanian Soekarno tidak pernah padam. Pledoinya yang sangat terkenal, Indonesia Menggugat, mengantarkannya ke pembuangan di Ende lalu ke Bengkulu.
Harapan bapaknya terpenuhi, umur 24 tahun Sukarno berhasil mengguncang podium, berteriak: Kita Harus Merdeka Sekarang!!! Akibatnya, dia harus dipenjara. Dituduh menghasut dan memberontak. Tapi keberanian Soekarno tidak pernah padam. Pledoinya yang sangat terkenal, Indonesia Menggugat, mengantarkannya ke pembuangan di Ende lalu ke Bengkulu.
Di Bengkulu, Soekarno istirahat sejenak dari
politik. Hatinya tertambat pada gadis muda bernama Fatmawati Padahal Soekarno masih menjadi suami Inggit
Garnasih, perempuan yang lebih tua 12 tahun dan selalu menjadi perisai baginya
ketika di penjara maupun dalam pengasingan.
Kini, Inggit harus rela melihat sang suami jatuh cinta. Di tengah kemelut rumah tangganya, Jepang datang mengobarkan perang Asia Timur Raya. Berahi politik Soekarno kembali bergelora.
Kini, Inggit harus rela melihat sang suami jatuh cinta. Di tengah kemelut rumah tangganya, Jepang datang mengobarkan perang Asia Timur Raya. Berahi politik Soekarno kembali bergelora.
Hatta dan Sjahrir, rival politik Soekarno,
mengingatkan bahwa Jepang tidak kalah bengisnya dibanding Belanda. Tapi Soekarno
punya keyakinan, Jika kita cerdik, kita bisa memanfaatkan Jepang untuk meraih
kemerdekaan. Hatta terpengaruh, tapi Sjahrir tidak. Kelompok pemuda progresif
pengikut Sjahrir bahkan mencemooh Soekarno-Hatta sebagai kolaborator.
Keyakinan Soekarno tak goyah. Sekarang, kemerdekaan Indonesia terwujud pada tanggal 17 Agustus 1945. Di atas kereta kuda, Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto berwejang kepada Soekarno muda: Manusia itu sama misteriusnya dengan alam, tapi jika kau bisa menggenggam hatinya, mereka akan mengikutimu. Kalimat ini selalu dipegang Soekarno sampai dia mewujudkan mimpinya: Indonesia Merdeka! (Byaz)
Keyakinan Soekarno tak goyah. Sekarang, kemerdekaan Indonesia terwujud pada tanggal 17 Agustus 1945. Di atas kereta kuda, Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto berwejang kepada Soekarno muda: Manusia itu sama misteriusnya dengan alam, tapi jika kau bisa menggenggam hatinya, mereka akan mengikutimu. Kalimat ini selalu dipegang Soekarno sampai dia mewujudkan mimpinya: Indonesia Merdeka! (Byaz)
Label:
politik

















